Oleh: onearly | Juni 11, 2008

Beri Insentif Kepada Petani Organik

Naiknya harga bahan baku urea dapat menjadi titik tolak untuk menggiatkan penggunaan pupuk organik, yaitu dengan memberi insentif kepada petani yang mengganti penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik.

Hal itu diungkapkan terpisah oleh Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukanan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo dan Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor Arif Satria, Minggu (8/6) di Jakarta. Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelumnya menyatakan telah berkonsultasi dengan Presiden SBY, tentang pemberian insentif langsung kepada petani, menggantikan subsidi pupuk.

Menurut Siswono, Indonesia bisa meniru pola Malaysia yang memberikan subsidi 500 ringgit bagi petani yang menenam padi seluas 1 hektar. Pemerintah Indonesia, kata Siswono bisa memberikan insentif langsung Rp 500 ribu – 1 juta kepada tiap petani yang menanam komoditas tamanan pangan seluas satu hektar dengan menggunakan pupuk organik. Besarnya insentif tergantung dari pengalihan volume pupuk urea ke organik.

Namun Siswono mengingatkan, kebijakan insentif itu hendaknya bukan hanya kebijakan yang reaktif, yaitu karena naiknya harga bahan baku pupuk. Pemberian insentif harus menjadi program strategis jangka panjang dan terencana. Selain itu mekanisme pemberian insentif harus dipikirkan secara cermat, agar tidak salah sasaran.

Menurut Arif, pengalihan penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik bisa dilakukan bertahap. Tahun pertama target pengalihan 25 persen, selanjutnya target harus terus ditingkatkan. Perencanaan dan penetapan target harus dilakukan, karena ketersediaan pupuk organik masih terbatas dan perlu waktu untuk mengolahnya. Bahan baku pupuk organik juga terbatas karena revitalisasi perternakan belum berjalan optimal. Target peningkatan volume penggunaan pupuk organik harus diimbangi dengan pertumbuhan populasi ternak hewan ruminansia maupun nonruminansia agar bahan baku pupuk organik dari kotoran hewan selalu tersedia.

Tahun 2007/2008 subsidi pupuk urea Ro. 6,7 triliun. Industri pupuk memperkirakan dana subsidi akan membengkak menjadi Rp. 17 triliun, karena naiknya harga bahan baku pupuk. Volume subsidi pupuk urea untuk sub-sektor pangan tahun lalu 4,3 juta ton.

Sumber : Kompas 9 Juni 2008

Oleh: onearly | Juni 6, 2008

Budidaya Jamur Tiram

Ini satu hal lagi terobosan yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Lima Puluh Kota, membuat budidaya jamur tiram ! Tujuannya untuk memberikan aktivitas yang menguntungkan dari sisi ekonomi khususnya bagi masyarakat sekitar hutan, agar mereka tidak lagi menebang pohon-pohon di hutan. Dan upaya ini ternyata telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan, meski belum semua masyarakat sekitar hutan dapat menikmatinya.

Diawali dengan pelatihan yang diikuti oleh salah satu kader Dinas Kehutanan di Balai Pelatihan Kehutanan di Medan, maka dibentuklah kelompok petani jamur tiram (sekitar 13 orang dan ada sistem pembagian kerja sesuai kesepakatan) dengan iuran modal sebesar Rp 350.000,-/orang maka terkumpulah modal untuk memproduksi jamur tiram yang berlokasi di bekas gedung SD yang sudah tidak terpakai. Hasilnya mereka mampu membuat sekitar 1500 polyback jamur tiram, dimana panen masing-masing polyback akan menghasilkan 2-3 kg jamur. So, bayangkan saja berapa banyak panennya (dengan proses sekitar 3 – 5 bulan) sementara harga jual jamur tiram
Rp 20.000,-/kg. (harga pasar di sekitar lokasi itu) dan pasarnya cukup besar, belum banyak yang membudidayakan jamur jenis ini (asal lokasi di ketinggian dengan suhu sekitar 23 derajat Celcius, kalau musim kemarau harus disemprot air polyback-nya biar tetap basah dan lembab). Hmmmm bayangkan saja keuntungannya:) banyak nagari lain yang menginginkan pelatihan budidaya jamur ini. Anda tertarik?

Bagi teman-teman yang berminat, dapat menghubungi Ibu Ocha : 081363394021. Selamat berwirausaha….:)

Oleh: onearly | Juni 6, 2008

Lomba Pacu Itik

Hmmmm ini satu hal lagi tontonan langka yang ada di Luhak Lima Puluh, lomba pacu itik. Tanggal 11-12 Mei lalu telah diselenggarakan lomba pacu itik tahunan yang melibatkan banyak peserta lokal. Lokasinya cukup jauh dari jalan raya, tetapi karena lomba ini membuat penasaran, akhirnya diantar oleh seorang teman, saya akhirnya bisa menyaksikan lomba itu.

Ternyata lombanya adalah melemparkan itik sejauh-jauhnya dan setinggi-tingginya, dari jarak 200 – 1500 meter yang membuat itik akhirnya terbang dan mampu mencapai jarak yang dilombakan. Inilah lokasi dan gambar yang berhasil saya ambil saat lomba itu berlangsung plus bebek cantik yang diikutkan lomba oleh pemiliknya dan lokasi menuju tempat lomba pacu itik yang berada di lereng gunung yang sangat indah dan sejuk :)

Oleh: onearly | Juni 6, 2008

Menonton Latihan Randai

Randai adalah salah satu kesenian tradisional dari Minangkabau yang sudah seharusnya dilestarikan. Randai adalah suatu konsep kesenian yang memadukan antara alat musik, teater tradisional serta gerakan silat tradisional Minangkabau yang menjadi cikal bakal olah raga pencak silat tanah air bahkan dunia.

Saya berkesempatan melihat latihan randai ini di halaman rumah seorang kawan yang mendedikasikan dirinya dan keluarganya untuk memajukan masyarakat di Luhak Lima Puluh (Kab. Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh). Dalam latihan tersebut ternyata banyak anak-anak muda yang berlatih untuk memainkan kesenian ini, sungguh menggembirakan :) Dan inilah beberapa foto tentang latihan randai di suatu malam di bulan Mei 2008 lalu.

Kompas, 16 Mei 2008

Nagari Situjuah Gadang membuat gebrakan. Sebuah deklarasi menuju pertanian organik dikumandangkan dari nagari yang terletak 100 kilometer lebih dari Kota Padang, Sumatra Barat, itu pertengahan April 2008.

Oleh : AGNES RITA SULISTYAWATY

Deklarasi itu layak disebut gebrakan, karena hingga pendeklarasian belum 100 persen petani di tempat itu yang sudah menerapkan model pertanian organik. Namun, keberanian petani merancang target pertanian organik merupakan sesuatu yang luar biasa.

“Sekitar 10 persen petani nagari ini sudah bertani organik,” tutur EK Sago Indra, Wali Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Jika deklarasi ini berangkat dari gagasan pemerintah, rencana mencapai 100 persen pertanian organiktahun 2010 – atau maksimal 2011 – mungkin saja berhenti pada sebuah jargon.

“Kalau gerakan organik datang dari pemerintah, lebih banyak gagal. Lihat saja pencanangan pertanian organik yang didengungkan Departemen Pertanian. Hingga kini tida ada realisasinya. Dana untuk mendorong pertanian organik dari pemerintah pusat ke daerah nyaris tidak ada,” kata Djoni, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumatera Barat.

Lahan Sempit

Gerakan organik di Nagari Situjuah Gadang menjadi menarik terutama jika menelusuri penyebab gagasan beralih ke metode pertanian zaman nenek moyang. Salah satu yang penting dicatat adalah luas lahan yang dimiliki satu petani saat ini tidak sampai satu hektar, atau jauh berkurang dibandingkan dengan kepemilikan lahan pada tahun-tahun lalu.

Jumlah kepemilikan lahan setiap keluarga sangat mungkin terus berkurang, tapi mustahil bertambah karena luas lahan tetap, sementara jumlah anak-kemenakan pewaris lahan semakin bertambah. Belum lagi jika lahan pertanian dikorbankan untuk kebutuhan pemukiman, perkebunan, hingga industri.

Keterbatasan lahan membuat petani sulit mendapatkan hasil tambahan dari pertanian. Apalagi, kondisi tanah yang semakin tidak subur membuat hasil tani gampang merosot. Belum lagi tambahan biaya pengolahan yang terus membengkak, pasokan pupuk pabrik yang tidak menentu, hingga aneka bencana yang membuat panen gagal. Maka kesejahteraan semakin menjauh dari petani.

Dengan 85 persen dari 1.518 keluarga di nagari itu, keberhasilan meraih 100 persen pertanian organik nantinya menjadi sebuah gerakan perubahan yang luar biasa. Jika gerakan ini berhasil, Sumatera Barat mamu meningkatkan hasil pertanian pada lahan 874 hektar dalam 2-3 tahun mendatang.

Cita-cita organik dari Situjuah Gadang tidak hanya untuk tanaman padi. Sayur-mayur juga mereka kelola dengan cara organik. ”Sekali membuat pupuk, bisa untuk segala jenis tanaman. Kalu sayur sudah diproduksi sendiri, petani tidak perlu lagi belanja sayur lagi kan?”, kata Adek, petani organik.

Pertanian organik di nagari ini juga didukung oleh kepemilikan ternak, terutama sapi dan sedikit kabing. Ternak tidak hanya berharga karena dagingnya, tetapi juga kotoran yang menjadi aset untuk membuat pupuk kandang. Untuk mendaptkan aset kotoran ternak ini, petani harus mengubah pola peternakan mereka dari beternak dengan cara melepaskannya menjadi peternakan dengan memakai kandang.

”Sebenarnya, pola-pola ini merupakan sesuatu yang sudah ada sejak nenek moyang kami. Konsep rumah gadang tidak bisa dilepaskan dari pertanian, peternakan, dan perikanan. Setiap rumah gadang pasti punya lumbung padi. Begitu pula dengan kandang ternak di bawah rumah gadang yang berbentung rumah panggung, serta kolam di halaman rumah gadang,” tutur Adek.

Jerami sisa panen juga menjadi bagian penting dalam pertanian. Padahal jika melintasi persawahan di Sumatera Barat, asap dari tumpukan jerami sangat mudah ditemukan karena sebuah kebiasaan yang mengakar sejak lama dalam model pertanian di Sumatera Barat.

Maka, kalaupun pemerintah tertarik ikut mendorong pertanian organik, dekungan pendanaan bisa diguirkan lewat pembiakan sapi untuk kebutuhan bahan baku pupuk serta pengenalan metode pertanian. Subsisi pupuk yang bisa dikelola langsung oleh petani lebih efektif ketimbang subsidi pada insustri yang masih mempunyai jalur perdagangan panjang serta beraneka kepentingan sebelum sampai ke petani.

Tentu, kebijakan ini akan ‘mengorbankan’ sejumlah pihak yang selama ini terlanjur senang mendapatkan ‘cipratan’ bagian dari mata rantai industri untuk pertanian.

Ketahanan Pangan

Arion (39), petani Nagari Situjuah Gadang, pernah merasakan panen dari pertanian konvensional sembilan tahun lalu. Dia pun akrab dengan kelangkaan pupuk. “Kadang-kadang tidak dapat pupuk karena toko kehabisan stok. Terpaksalah padi tidak dipupuk dan hasil padi semakin berkurang,” kata Arion.

Peralihan ke metode pertanian zaman nenek moyang ini bukan tanpa alasan. Sebagai petani yang juga mempunyai banyak kebutuhan dan harus mengejar harga barang yang semakin melambung, hasil panen yang bertambah berarti juga peluang mendapatkan penghidupan yang sedikit lebih layak.

Kini, sekitar dua ton dihasilkan dari setengah hektar sawah yang dikelolanya. Pengeluaran juga semakin berkurang dengan pemakaian pupuk dan pestisida buatan sendiri. Keuntungan-keuntungan ini semakin menarik petani lain. ”Mengubah mindset masyarakat. Itu yang sulit,” Tutur Sago.

Momentum kelangkaan pupuk buatan pabrik serta mahalnya sarana produksi pertanian yang dihasilkan oleh insustri dipakai oleh petani di Situjuah Gadang menuju pertanian organik. Dari pengalaman mereka, pupuk buatan pabrik hanya cukupuntuk 10 persen kebutuhan pupuk di nagari ini.

Para petani di nagari ini semakin sadar bahwa mereka harus punya kemandirian bertani, terbeas dari pengaruh pabrik yang menetukan harga pupuk dan pestisida.

”Gerakan menuju pertanian organik ini merupakan perlawanan atas kapitalisme. Mana pernah ada ceritapetani itu sejahtera. Ini cara yang kami usahakan agar petani lebih makmur,” kata Sago yang juga lebih dulu memulai bertani organik.

Pada akhirnya nanti, petani di Situjuah Gadang ini mempunyai mimpi untuk melambaikan tangan tanda perpisahan dengan produk pertanian buatan pabrik. Kato bajawab, gayuang basambuik, setiap masalah selalu ada penyelesaiannya.

Oleh: onearly | Februari 12, 2008

Lima Puluh Kota Yang Saya Kenal

harau

Saya memang baru beberapa kali berkunjung ke wilayah Kab. Lima Puluh Kota Propinsi Sumatra Barat, tapi…saya benar-benar terpukau dengan keindahan alamnya yang tidak kalah indah dengan wilayah Minangkabau yang ada di kabupaten/kota lainnya, seperti Padang, Solok, Bukittinggi, atau wilayah Agam. Dan tentu saja, Lembah Harau-nya yang sangat indah itu membuat takjub, rasanya manusia menjadi sangat sangat kecil dibandingkan keperkasaan Allah Sang Pencipta. Masyarakatnya pun sejauh ini yang saya kenal, beberapa teman dan sahabat saya yang berasal maupun yang tinggal di sana, sangat ramah dan menyenangkan meskipun saya tetap harus belajar banyak tentang budaya Minangkabau.

Tapi, seiring dengan kecintaan saya pada Minangkabau yang tumbuh sedari kecil, saya yakin bahwa memang inilah jalan hidup saya, mencintai Minangkabau dengan segala kelebihan dan kekurangannya, berarti saya memang harus menjaga komitmen saya dengan sahabat-sahabat di Kab. Lima Puluh Kota untuk membantu masyarakat di sana. Bagi siapa saja yang berminat untuk menulis tentang Lima Puluh Kota, bagi Anda maupun lembaga yang berminat untuk menjalin hubungan kerjasama dengan masyarakat di Lima Puluh Kota dan hal-hal yang bersifat positif demi kemajuan bersama, silakan mengirimkan tulisan dan memberikan komentar di weblog sederhana ini. Tulisan dapat dikirim ke alamat email saya (Early Rahmawati) : onearly@gmail.com atau pendamping masyarakat di Kab. Lima Puluh Kota (Wahyudi Thamrin) : wahyudi.thamrin@gmail.com dan Bapak Syaiful Rahman : prima_wartawan@yahoo.co.id

Terima kasih atas partisipasi Anda semuanya.

Pengelola

Oleh: onearly | Februari 12, 2008

Pelayanan Perizinan di Kab. Lima Puluh Kota

Sebagai salah satu upaya memperbaiki pelayanan publik yang semakin menjadi tuntutan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota telah membentuk satuan tugas baru berupa Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (disingkat KPPT) sejak bulan November 2007 lalu. Pelayanan terpadu satu pintu untuk 63 jenis perizinan ini membuka layanan pada jam kerja pukul 08.00 – 16.00 di KPPT Komplek Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota (di depan Pasar Payakumbuh). Bagi masyarakat (dan juga para investor) yang ingin mengurus dokumen kependudukan dan dokumen perizinan usaha dapat mendatangi KPPT dan dijamin pelayanan yang diberikan akan mudah, murah dengan staf pelayanan yang ramah dan efisien. Perbaikan sistem layanan perizinan ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota dengan dukungan dari The Asia Foundation serta didampingi oleh mitra lokal Pusat Kajian Studi Budaya dan Ekonomi Universitas Negeri Padang (PKSBE UNP) yang memberikan berbagai input perbaikan layanan perizinan serta menyelenggarakan training staf KPPT agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat semakin baik. Bagi masyarakat dan investor yang ingin mengurus izin dan menjumpai berbagai keluhan selama proses pelayanan berlangsung, KPPT menyediakan mekanisme pengaduan agar Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota mendapatkan umpan balik dan mendorong agar memberikan pelayanan yang lebih baik lagi bagi masyarakat. Jangan segan untuk mengurus perizinan secara langsung, karena perubahan ke arah lebih baik telah terjadi dan staf yang ramah akan siap melayani Anda. (Early)

Oleh: onearly | Februari 11, 2008

Training SDM KPPT

Reformasi Pelayanan Perizinan

Oleh: onearly | Februari 11, 2008

Training SDM KPPT

Reformasi Pelayanan Perizinan

Oleh: onearly | Februari 11, 2008

Training SDM KPPT

Reformasi Pelayanan Perizinan

Tulisan Sebelumnya »

Kategori