Kompas, 16 Mei 2008
Nagari Situjuah Gadang membuat gebrakan. Sebuah deklarasi menuju pertanian organik dikumandangkan dari nagari yang terletak 100 kilometer lebih dari Kota Padang, Sumatra Barat, itu pertengahan April 2008.
Oleh : AGNES RITA SULISTYAWATY
Deklarasi itu layak disebut gebrakan, karena hingga pendeklarasian belum 100 persen petani di tempat itu yang sudah menerapkan model pertanian organik. Namun, keberanian petani merancang target pertanian organik merupakan sesuatu yang luar biasa.
“Sekitar 10 persen petani nagari ini sudah bertani organik,” tutur EK Sago Indra, Wali Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Jika deklarasi ini berangkat dari gagasan pemerintah, rencana mencapai 100 persen pertanian organiktahun 2010 – atau maksimal 2011 – mungkin saja berhenti pada sebuah jargon.
“Kalau gerakan organik datang dari pemerintah, lebih banyak gagal. Lihat saja pencanangan pertanian organik yang didengungkan Departemen Pertanian. Hingga kini tida ada realisasinya. Dana untuk mendorong pertanian organik dari pemerintah pusat ke daerah nyaris tidak ada,” kata Djoni, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumatera Barat.
Lahan Sempit
Gerakan organik di Nagari Situjuah Gadang menjadi menarik terutama jika menelusuri penyebab gagasan beralih ke metode pertanian zaman nenek moyang. Salah satu yang penting dicatat adalah luas lahan yang dimiliki satu petani saat ini tidak sampai satu hektar, atau jauh berkurang dibandingkan dengan kepemilikan lahan pada tahun-tahun lalu.
Jumlah kepemilikan lahan setiap keluarga sangat mungkin terus berkurang, tapi mustahil bertambah karena luas lahan tetap, sementara jumlah anak-kemenakan pewaris lahan semakin bertambah. Belum lagi jika lahan pertanian dikorbankan untuk kebutuhan pemukiman, perkebunan, hingga industri.
Keterbatasan lahan membuat petani sulit mendapatkan hasil tambahan dari pertanian. Apalagi, kondisi tanah yang semakin tidak subur membuat hasil tani gampang merosot. Belum lagi tambahan biaya pengolahan yang terus membengkak, pasokan pupuk pabrik yang tidak menentu, hingga aneka bencana yang membuat panen gagal. Maka kesejahteraan semakin menjauh dari petani.
Dengan 85 persen dari 1.518 keluarga di nagari itu, keberhasilan meraih 100 persen pertanian organik nantinya menjadi sebuah gerakan perubahan yang luar biasa. Jika gerakan ini berhasil, Sumatera Barat mamu meningkatkan hasil pertanian pada lahan 874 hektar dalam 2-3 tahun mendatang.
Cita-cita organik dari Situjuah Gadang tidak hanya untuk tanaman padi. Sayur-mayur juga mereka kelola dengan cara organik. ”Sekali membuat pupuk, bisa untuk segala jenis tanaman. Kalu sayur sudah diproduksi sendiri, petani tidak perlu lagi belanja sayur lagi kan?”, kata Adek, petani organik.
Pertanian organik di nagari ini juga didukung oleh kepemilikan ternak, terutama sapi dan sedikit kabing. Ternak tidak hanya berharga karena dagingnya, tetapi juga kotoran yang menjadi aset untuk membuat pupuk kandang. Untuk mendaptkan aset kotoran ternak ini, petani harus mengubah pola peternakan mereka dari beternak dengan cara melepaskannya menjadi peternakan dengan memakai kandang.
”Sebenarnya, pola-pola ini merupakan sesuatu yang sudah ada sejak nenek moyang kami. Konsep rumah gadang tidak bisa dilepaskan dari pertanian, peternakan, dan perikanan. Setiap rumah gadang pasti punya lumbung padi. Begitu pula dengan kandang ternak di bawah rumah gadang yang berbentung rumah panggung, serta kolam di halaman rumah gadang,” tutur Adek.
Jerami sisa panen juga menjadi bagian penting dalam pertanian. Padahal jika melintasi persawahan di Sumatera Barat, asap dari tumpukan jerami sangat mudah ditemukan karena sebuah kebiasaan yang mengakar sejak lama dalam model pertanian di Sumatera Barat.
Maka, kalaupun pemerintah tertarik ikut mendorong pertanian organik, dekungan pendanaan bisa diguirkan lewat pembiakan sapi untuk kebutuhan bahan baku pupuk serta pengenalan metode pertanian. Subsisi pupuk yang bisa dikelola langsung oleh petani lebih efektif ketimbang subsidi pada insustri yang masih mempunyai jalur perdagangan panjang serta beraneka kepentingan sebelum sampai ke petani.
Tentu, kebijakan ini akan ‘mengorbankan’ sejumlah pihak yang selama ini terlanjur senang mendapatkan ‘cipratan’ bagian dari mata rantai industri untuk pertanian.
Ketahanan Pangan
Arion (39), petani Nagari Situjuah Gadang, pernah merasakan panen dari pertanian konvensional sembilan tahun lalu. Dia pun akrab dengan kelangkaan pupuk. “Kadang-kadang tidak dapat pupuk karena toko kehabisan stok. Terpaksalah padi tidak dipupuk dan hasil padi semakin berkurang,” kata Arion.
Peralihan ke metode pertanian zaman nenek moyang ini bukan tanpa alasan. Sebagai petani yang juga mempunyai banyak kebutuhan dan harus mengejar harga barang yang semakin melambung, hasil panen yang bertambah berarti juga peluang mendapatkan penghidupan yang sedikit lebih layak.
Kini, sekitar dua ton dihasilkan dari setengah hektar sawah yang dikelolanya. Pengeluaran juga semakin berkurang dengan pemakaian pupuk dan pestisida buatan sendiri. Keuntungan-keuntungan ini semakin menarik petani lain. ”Mengubah mindset masyarakat. Itu yang sulit,” Tutur Sago.
Momentum kelangkaan pupuk buatan pabrik serta mahalnya sarana produksi pertanian yang dihasilkan oleh insustri dipakai oleh petani di Situjuah Gadang menuju pertanian organik. Dari pengalaman mereka, pupuk buatan pabrik hanya cukupuntuk 10 persen kebutuhan pupuk di nagari ini.
Para petani di nagari ini semakin sadar bahwa mereka harus punya kemandirian bertani, terbeas dari pengaruh pabrik yang menetukan harga pupuk dan pestisida.
”Gerakan menuju pertanian organik ini merupakan perlawanan atas kapitalisme. Mana pernah ada ceritapetani itu sejahtera. Ini cara yang kami usahakan agar petani lebih makmur,” kata Sago yang juga lebih dulu memulai bertani organik.
Pada akhirnya nanti, petani di Situjuah Gadang ini mempunyai mimpi untuk melambaikan tangan tanda perpisahan dengan produk pertanian buatan pabrik. Kato bajawab, gayuang basambuik, setiap masalah selalu ada penyelesaiannya.